Cerita Mentari Sore Hari

Jika Kamu datang dari Instagram, ku ucapkan Hallo, jika Kamu tak datang dari situ, mungkin Kamu telah tersesat. Ya, untuk yang datang dari arah keduanya silahkan tekan tombol ‘back’ yang ada di layar ponselmu atau papan ketik laptop kerenmu itu. Tidak ada apa-apa dipostingan ini, daripada Kamu tetap membaca deretan aksara-aksara yang tiada manfaat bagi dirimu, tapi dengarlah aku tak mengusirmu, Aku hanya menyarankan baik bagimu. Namun jika Kamu tak juga ingin pergi. Ya sudahlah. Silahkan pakai hak mu, mungkin rasa keingintahuanmu.

Prolog

Pernahkah Kamu merasa tak tenang, merasa rusuh resah karena satu atau dua hal bahkan lebih yang menurutmu kehidupan disekitar begitu rumit. Merasa jenuh oleh rutinitas; aktivitas yang stagnan dan konserfatif. Atau dengan kendala-kendala yang menjepit; menyudutkan serta bertubi-tubi mendekati Kamu tanpa pernah berhenti, juga waktu yang tak sedikitpun mengenal jeda dan tetap menyeret Kamu untuk terus mengandalkan kemapuan beradaptasimu.

Ya, begitulah sifat sang waktu. Kamu terima atau tidak terima, Kamu suka atau tidak suka, Kamu merasa mampu atau tidak bisa, mustahil sang waktu dapat berkompromi terhadap dirimu.

Lihatlah, indah bukan jika Kamu suka dengan cahaya mentari sore yang menyala hangat seperti itu, terlihat manja bukan.

Atau dengan foto-foto ini, lihatlah pohon tepian jalan layaknya seperti sakura, tanaman musiman yg mekar indah kala musim semi di negeri matahari terbit, awan tampak merah muda, seolah malu-malu. Begitu feminin sekali bukan. Hahaha.. atau bahkan Kamu lebih suka dengan foto-foto di bawah ini

Ya. Lihatlah bahkan langit seolah bisa terlihat marah. Seperti sifat manusia, ataupun sangat hangat dengan cahaya merah meronanya. Mungkin tampak seksi bagi beberapa orang pencinta senja.

Tapi seperti ini, izinkan Aku menjelaskan tentang pandanganku. Tolong jangan menginterupsi supaya Aku tak lupa ingin bicara apa, tenanglah Aku tentu akan memberikanmu kesempatan bertanya atau menyanggah asumsiku.

Foto-foto diatas diambil diberapa spot di kota Bandung pada bulan Desember 2017. Bukan spot foto yang baik kurasa, bukan dengan lensa kamera terbaik ku ambil dan bukan juga musim yang baik (bulan-bulan berakhiran ‘-ber’ biasanya musim penghujan)—Ya tentu. Kamu bisa lebih ahli dariku. Sesekali aku bertanya pada diriku “Mengapa”. Mengapa keindahan itu sifatnya sebentar dan sementara ? Aku tak menyangkal kalo senja itu indah, namun yang kutanyakan adalah bagaimana bisa sesuatu yang seindah itu berjangka waktu sebentar dan tidak lama. Kamu tahu ? Aku mengharapkan keindahan yang berlangsung lama, bukankah suatu kenikmatan berlama-lama dalam keindahan. Kalo bisa abadi, bukan hanya untuk diabadikan.

Kamu tahu bagaimana garis waktu atau fase-fase saat senja ? Pertama mulai dari warna langit yang biru, lalu berubah kekuning-kuningan dan mulai menampakan bayangan. Ya. Bayangan benda-benda yang menghalangi sinar mentari. Lalu berubah warna menjadi jingga, lalu ada warna merah muda, ungu, biru gelap dan nila. Ah, Aku ragu warna nila itu seperti apa sebenarnya. Maukah kamu beritahu aku? Tapi tunggu.

Saat langit penuh warna seperti itu, sadar atau tidak sadar, indah atau tidak indah, lembayung senja membuaimu, Kamu terpesona, Kamu terpikat pada warna-warninyanya yang memanjakan bola matamu dan pada akhirnya dia tetap menarikmu pada suatu kegelapan.

Sudah jelas, itu disebut malam. Jangan seolah-olah Kamu tak tahu, anak kecil pun tentu mengerti dan Kamu pasti lebih pandai dariku.

Ya. Intinya argumentasiku dari sudut pandang yang tak benar-benar menyukai senja. Aku lebih menyukai matahari pagi yang menyilaukan mata setengah terjaga, yang datang dari kegelapan menuju pencerahan. Bagaimana menutmu ?

Sebenarnya Aku tanpa sengaja menjadi si pemburu senja di sela-sela aktivitasku, diantara jeda kegiatan dan organisasiku (sebenarnya melarikan diri) dan berhasil membuat sesuatu dari inspirasi senja itu. Yah, walaupun buatan tanganku sangatlah sederhana, terlalu biasa hanya sebuah lampu temaram (lampu tidur) yang tak bernilai berapa, pun bernilai. (Kupikir sangat)

Terimakasih sudah membuang-buang waktumu, melewatkan moment-moment yang baik yang mungkin hadir dan Kamu harus melewatkannya (kuharap tidak) karna telah membaca aksara ketidak jelasanku ini.

Pintaku, Lupakanlah ini.

Tabik!

Featured post

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑