Cerita Mentari Sore Hari

Jika Kamu datang dari Instagram atau Twitter , ku ucapkan Hallo, jika Kamu tak datang dari situ, mungkin Kamu telah tersesat. Ya, untuk yang datang dari arah keduanya silahkan tekan tombol ‘back’ yang ada di layar ponselmu atau papan ketik laptop kerenmu itu. Tidak ada apa-apa dipostingan ini, daripada Kamu tetap membaca deretan aksara-aksara yang tiada manfaat bagimu, Namun dengarlah aku tak mengusirmu, Aku hanya menyarankan baik bagimu. Namun jika Kamu tak juga ingin pergi. Ya sudah. Silahkan pakai hak mu, mungkin rasa keingintahuanmu.

Suatu ketika di 2017.

Pernahkah Kamu merasa tak tenang, merasa resah karena satu atau dua hal bahkan lebih yang menurutmu kehidupan disekitar begitu rumit. Merasa jenuh oleh rutinitas; aktivitas yang stagnan dan repetitif. Atau dengan kendala-kendala yang menjepit; menyudutkan serta bertubi-tubi mendekati Kamu tanpa pernah berhenti, juga waktu yang tak sedikitpun mengenal jeda dan tetap menyeret Kamu untuk terus mengandalkan kemapuan beradaptasimu.

Ya, begitulah sifat sang waktu. Kamu terima atau tidak terima, Kamu suka atau tidak suka, Kamu merasa mampu atau tidak bisa, mustahil sang waktu dapat berkompromi terhadap dirimu.

Lihatlah, indah bukan jika Kamu suka dengan cahaya mentari sore yang menyala hangat seperti itu, terlihat manja bukan. Nikmatilah harimu, semesta sudah teramat tua. Dan mungkin kesempatan hidup sudah tidak akan lama lagi. Nikmatilah!

Dengan foto-foto ini, pohon tepian jalan layaknya seperti sakura, tanaman musiman yg mekar indah kala musim semi di negeri matahari terbit, awan tampak merah muda, seolah malu-malu. Begitu feminin sekali bukan. Hahaha.. atau bahkan Kamu lebih suka dengan foto-foto di bawah ini

Ya. Bahkan langit seolah bisa terlihat marah. Seperti sifat manusia, ataupun sangat hangat dengan cahaya merah meronanya. Mungkin tampak seksi bagi beberapa orang pencinta senja.

Tapi seperti ini, izinkan Aku menjelaskan tentang pandanganku. Tolong jangan menginterupsi supaya Aku tak lupa ingin bicara apa, tenanglah Aku tentu akan memberikanmu kesempatan bertanya atau menyanggah asumsiku.

Foto-foto diatas diambil diberapa spot di kota Bandung pada bulan Desember 2017. Bukan spot foto yang baik kurasa, bukan dengan lensa kamera terbaik ku ambil dan bukan juga musim yang baik –bulan-bulan berakhiran ‘-ber’ biasanya musim penghujan)– Ya tentu. Kamu bisa lebih ahli dariku. Sesekali pertanyaan demi pertanyaan berspekulasi di pikiranku. Pikiranku bertanya pada diriku. Mengapa keindahan itu sifatnya sebentar dan sementara ? Aku tak menyangkal kalo senja itu indah, namun yang kutanyakan adalah mengapa sesuatu yang seindah itu berjangka waktu sebentar atau tidak tidak lama. Kamu tahu ? Aku mengharapkan keindahan yang berlangsung lama, bukankah suatu kenikmatan berlama-lama dalam keindahan. Kalo bisa abadi, bukan hanya untuk diabadikan.

Kamu tahu bagaimana garis waktu atau fase-fase saat senja ? Pertama mulai dari warna langit yang biru, lalu berubah kekuning-kuningan dan mulai menampakan bayangan. Ya. Bayangan benda-benda yang menghalangi sinar mentari yang perlahan merendah. Lalu berubah warna menjadi jingga, lalu ada warna merah muda, ungu, biru gelap dan nila. Ah, Aku ragu warna nila itu seperti apa sebenarnya. Maukah kamu beritahu aku? Tapi tunggu.

Saat langit penuh warna seperti itu, sadar atau tidak sadar, indah atau tidak indah, lembayung membuaimu, Kamu terpesona, Kamu terpikat pada warna-warninya yang memanjakan bola matamu dan pada akhirnya dia tetap menarikmu pada suatu kegelapan. Sudah jelas, itu disebut malam. Jangan seolah-olah Kamu tak tahu, anak kecil pun tentu mengerti dan Kamu pasti lebih pandai dariku.

Intinya argumentasiku atau persepsiku dari sudut pandang yang tak benar-benar menyukai senja –sekadar untuk menikmatinya saja. Aku lebih menyukai matahari pagi yang menyilaukan mata setengah terjaga, yang datang dari kegelapan menuju pencerahan. Yang menghangatkan tubuh seusai angin malam berembus. Bagaimana menutmu ?

Sebenarnya Aku tanpa sengaja menjadi si pemburu senja di sela-sela aktivitasku, diantara jeda kegiatan dan organisasiku –sebenarnya melarikan diri. Dan berhasil membuat sesuatu dari inspirasi senja itu. Ya, walaupun buatan tanganku sangatlah sederhana, terlalu biasa hanya sebuah lampu temaram (lampu tidur).

Terimakasih sudah membuang-buang waktumu, melewatkan moment-moment yang baik yang mungkin hadir dan Kamu harus melewatkannya –kuharap tidak.

Tabik!

Advertisements
Featured post

Menghargai Pikiran

Manusia adalah makhluk hasil kreasi-Nya yang luar biasa, konon awal mulanya saja, sesosok makhluk iri hati yang diciptakan oleh-Nya dari Api, enggan untuk bersujud kepada kita (manusia) yang asal-usulnya (konon) diciptakan dari sebongkah tanah. Manusia adalah makhluk yang memiliki pikiran, berpikirlah seputih jernih atau sedalam hitam. Kalau bisa kombinasikan saja cara berpikirmu. Mungkin akan jadi kombinasi terhebat yang akan kau miliki. Hewan dan tumbuhan juga hasil Kreasi-Nya, namun apakah mereka menggunakan pikiran? Tidak! Hewan miliki pikiran namun tak mengunakannya, itulah sebab yang membedakan manusia dengan kreasi lain-Nya. Terpuji lah wahai umat manusia.

Kemajuan teknologi sudah sangat melesat, peradaban kehidupan sudah semakin menunjang dan memudahkan saja. Kau mau bertukar kabar, gunakan saja surel atau aplikasi pesan mediamu, tidak perlu lagi via surat-menyurat konvensional dan kirim-mengirim via pos. Kau ingin belanja, tidak perlu lagi kau pergi ke pasar, kau tinggal pilih-pilih saja belanjaan yang ada di toko digital. Kau ingin terkenal silahkan saja aktif di jejaring media sosialmu. Entah menyebar pesan kebaikan ataupun kontroversial. Semua berhak berekspresi di pelbagai media. Asalkan tentu saja kau persiapkan rasa tanggung jawabmu. Bebaslah sebebas inginmu, namun tanggung jawablah atas perbuatanmu.

Barangkali sudah sangat adiktif. Penggunaan telepon genggam saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Semakin canggih sudah pasti, sangat melejit bahkan teknologi saat ini. Bagai candu seperti nikotin pada rokok. Sulit atau bahkan teramat sangat sulit untuk mengaturnya. Belum lagi tsunami informasi yang membanjiri kotak pesan kita. Mulai dari anak belia hingga bapak-bapak yang masuki usia renta sepertinya sudah gagal bagaimana menyikapi secara arif, bijak dan sederhana. Saat kau bangun tidur, coba apa yang pertama kali kau cari ? Apakah air, apakah buku, mungkin beberapa orang masih ada dan berlaku bijak dalam menyikapi benda yang datang dari masa depan tersebut, namun mayoritas manusia mencari handphone saat bangun dari tidurnya. Benarkah ?

Handphone. Seringkali membuat Saya tidak menghargai pikiran. Tenggelam kedalam dunia buaian (Maya) dan lupa untuk menikmati hidup di alam semesta yang nyata (bumi manusia). Lupa untuk menikmati; menghargai; mensyukuri hakekat hidup. Yang dekat tak ku perhatikan, yang jauh semakin terabaikan (Maafkan saya). Asik menyendiri dengan dunia genggaman, padahal menggenggam dunia pun tidak. Oleh karenanya melalui catatan sederhana ini saya berefleksi, jangan sampai Engkau seperti saya.

Cara sederhana dan tepat untuk menghargai pikiran adalah dengan membaca. Bacalah apapun itu, terutama buku. Ini bukanlah pesanku yang origin, namun mari bertamasya sejenak ke sejarah dimana Wahyu pertama kali diturunkan. Apa perintah-Nya ? adalah perintah membaca. Ya, Membacalah! Deretan aksara yang berjajar memang tidak menawarkan keasikan. Pembacalah sendiri yang menemukan keasikan itu. Rangkaian kata-kata akan memberimu makna. Dan kau akan menjadi pribadi yang luar biasa. Namun jangan lupa untuk tetap membumi. Seperti pepatah yang tak kenal patah, semakin berisi semakin menunduk. Aplikasikan kawan! Jangan jadi congkak.

Membaca selain membuka dan menambah wawasan cakrawala berpikir, juga miliki nilai positif lainnya. Silahkan saja browsing di handphone kerenmu apa saja manfaat membaca. Silahkan mencari tahu!

Tabik!

Blog at WordPress.com.

Up ↑